Teknik Dasar Bertahan Hidup di Hutan dan Gunung

Semakin banyak film layar lebar yang bertemakan pendakian gunung yang ikut mendorong masyarakat, khususnya anak muda untuk ikut Mendaki Gunung atau menyusuri hutan perawan.

Di televisi bahkan banyak tayangan jalan-jalan mengeksplore alam hutan dan gunung yang membuat masyarakat juga ingin melakukan­nya. Tentu itu menjadi hal baik, ketika banyak masyarakat yang mulai mencintai alam, hutan dan gunung.

Namun sayangnya banyak pula diberi­takan pendaki gunung yang hilang, bahkan menjadi korban keganasan alam. Tentunya sungguh memprihatinkan, karena ternyata korban kebanyakan belum memiliki kemam­puan dasar untuk bertahan hidup (survival) di alam liar, seperti gunung dan hutan.

Anak-anak remaja belasan tahun, seting­kat SMA sering kali nekat naik gunung tanpa persiapan. Padahal menjelajah gunung dan hutan harus penuh persiapan setidaknya pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar.

Kendalanya adalah banyak kelompok pecinta alam dalam merekrut anggotanya se­ring dianggap memberikan syarat yang berat, dalam pelatihannya pun sungguh memberat­kan. Sehingga banyak yang enggan untuk ikut. Hal ini diakui para senior pecinta alam yang sudah menjadi legenda di wilayah Jabar, yakni Wanadri.

“Memang untuk menjadi kelompok pecinta alam ada pelatihan khusus. Namun melihat banyaknya korban hilang di gunung dan hutan, kami berinisiatif memberikan pelatihan dasar. Tidak pakai syarat dan la­tihan berat. Tujuannya agar mereka siap jika ternyata harus bertahan hidup di alam liar,” ujar Jukardi, atau dikenal di Wanadri dengan sebutan Bongkeng.

Bersama dengan toko peralatan outdoor dari Bandung, Eiger, sejak 2012, dimulailah pelatihan dasar bagi pemula. Namanya Mountain and Jungle Course (MJC). Pesertanya berasal dari seluruh daerah di Indonesia, dan masih amatir. Bukan yang sudah sering naik gunung atau keluar masuk hutan. Justru pesertanya adalah mereka yang ingin mencoba menikmati alam liar tetapi tidak berpenga­laman. Tentunya harus melalui seleksi ketat.

“Kalau sudah berpengalam­an tentunya sudah siap. Kami ingin membantu pelatihan dasar untuk yang tidak memiliki dasar survival sama sekali. Tu­juannya, memi­nimalisir korban terse­sat,” ujar Galih Donikara, Koordina­tor EAST (Eiger Adventure Service Team), sekali­gus Penanggung Jawab Kegiatan MJC 2018.

Pentingnya Persiapan

Anekdot yang sering ter­lontar diantara pelaku pecinta alam dan tim Search dan Recue (SAR) seperti “Bosan, ada lagi yang tersesat,” terkadang sering membuat senyum kecut diantara mereka sendiri. Dan setiap kali ditemukan, korban memang ma­sih amatir bahkan ada yang nol pengalaman.

Pergi mendaki dan menjelahi hutan tanpa persiapan seringkali menjadi sebab jatuhnya korban. Bahkan terkadang sering ditemu­kan korban yang meninggalkan barang-barang survival penting di tas mereka karena kelelahan dan tidak kuat lagi menenteng tas.

“Saat mencari, biasanya ka­lau sudah ketemu ada tas yang tercecer korban tidak jauh. Artinya korban sudah sangat lelah. Terbaru kemarin, kami malah nemunya gitar, dan tidak jauh korban ditemukan. Jadi ke gunung itu untuk senang-senang saja, bekalnya gitar,” ujar Soni, trainer MJC yang juga akrab di­panggil Kang Oz di Wanadri.

MJC tahun ini diikuti seba­nyak 75 orang pecinta alam pemula dari berbagai provinsi di Indonesia. Ada sejumlah pelatih­an yang akan diberikan sebagai bekal yang nantinya bisa ditular­kan kepada rekan-rekan mereka agar bisa survive di alam liar.

Hal pertama, menurut Kang Oz, peserta akan diberikan materi mengenal medan. Pada pengenalan medan, pe­serta akan diberikan informasi terkait kondisi kontur gu­nung dan hutan. Sebuah gundukan tanah yang mewakili bentuk gunung dibuat de­ngan garis-garis ketinggian yang dibuat dari benang putih.

Peserta seakan-akan meli­hat gunung atau peta dari atas, seperti seekor burung. Mengenal arti warna merah, kuning dan hijau yang menunjukan keting­gian dan kondisi alam, lembah atau turunan curam.

“Mengenal kontur atau peta ini sangat penting. Agar saat tersesat tidak berputar-putar tak tentu arah. Peta akan mem­bawa pecinta alam yang tersesat mencari jalan yang benar. Baik jalan untuk pulang atau menuju puncak gunung yang hendak dituju,” jelasnya.

Menurutnya, kebanyakan akan mencari sungai dan meng­ikuti alur sungai karena diang­gap akan ada perkampungan di bagian hilir. Padahal tidak selalu demikian. Banyak jalur sungai berbatu yang tidak bisa diikuti, dan kadang air yang mengalir tidak akan membawa ke perkam­pungan. Itulah pentingnya me­ngenal peta.

Air dan Api Unsur Terpenting


Selain membawa peralatan yang cukup, seperti golok, korek api, dan baju hangat serta tenda standar, juga perlu mem­bawa bahan makanan. Jika pendakian lancar dan sesuai target, bahan makanan tentu akan mencukupi.

Tetapi jika tersesat, tidak memiliki bahan makanan dan minuman, bagi pendaki hal itu seharusnya tidak menjadi masalah. Alam telah menyediakan bahan makanan dan air melimpah.

“Bambu adalah alat penting dan mu­dah ditemukan di hutan dan gunung. Bisa menjadi alat memasak dan menyediakan air minum melimpah,” jelas Kang Oz.

Dalam pelatihan MJC, peserta dilatih un­tuk memanfaatkan pohon bambu. Seperti menjadi wadah untuk memasak air hingga menanak nasi. Bambu berukuran besar akan dilubangi dan berfungsi menjadi sebuah panci atau bejana untuk memasak.

Sumber makanan yang dimasak pun harus dicari di alam. Misalnya mencari ubi-ubian, ikan di sungai atau menjerat kelinci dan ayam liar.

Kang Oz memberikan trik mudah untuk mendapatkan air bersih, jika tidak bertemu dengan sungai. Yakni mencari batang bambu yang di dalamnya terdapat genangan air.

“Tinggal diketok batangnya, akan terde­ngar suara yang berbeda, antara yang kosong dan ada airnya. Tinggal dilubangi maka air akan mudah diambil. Bisa diminum langsung atau dimasak terlebih dulu,” jelasnya.

Diajarkan pula untuk membuat api dari kayu-kayu kering yang ada di sekitar. Caranya dengan menggesekkan batang kayu kering pada daun kering sehingga memunculkan bara api. Hanya dalam hitungan detik, Kang Oz memberikan contoh. Bagi yang sudah ter­biasa sangat mudah, namun bagi peserta per­lu waktu lama untuk bisa membuat api dari ranting kering tanpa korek atau pemantik.

“Tapi ini kalau darurat. Usahakan kalau mendaki selalu bawa pemantik api. Kalau musim hujan akan lebih sulit membuat api,” tegasnya.

Setiap kali ada laporan orang hilang, atau kecelakaan pesawat di hutan dan gunung, tim SAR dan kelompok pecinta alam akan ikut ambil bagian. Dan tentunya jurnalis tidak ketinggalan. Namun terkadang ikutnya tim liputan justru memperlambat gerakan tim penyelamat.

“Kebanyakan tim liputan yang diturun­kan belum pernah mengikuti pelatihan dasar survival. Akhirnya selain mencari korban, tim penyelamat juga harus menjaga jurnalis yang ikut. Jelas akan memperlambat gerakan,” tegas Bongkeng.

Sehingga, menurutnya, kelas survival dasar juga diperlukan bagi para jurnalis terutama yang sering bertugas dalam upaya penye­lamatan korban bencana alam atau korban tersesat di hutan.

Selain itu, menurutnya perlu juga pela­tihan dasar survival kepada artis atau kru produksi televisi yang membuat program jalan-jalan atau survival di alam terbuka.

“Selain menginformasikan keindahan alam, juga harus diinformasikan tentang per­lunya dasar-dasar survival kepada masyarakat melalui tontonan edukatif. Dan tetap menjaga alam dari kerusakan dan sampah,” tuturnya