Minyak Jarak untuk Induksi Persalinan, Apakah Aman dan Efektif?

Minyak Jarak

Minyak jarak atau castor oil paling dikenal sebagai obat pencahar. Namun, tak hanya itu, ternyata minyak jarak juga dapat membantu induksi persalinan. Meski masih sedikit bukti tentang hal ini, tapi beberapa orang sudah mempercayai manfaat dari minyak jarak yang satu ini. Namun, apakah minyak jarak benar-benar efektif untuk induksi persalinan? Simak jawabannya di sini.

Mengenal minyak jarak (castor oil)

Minyak jarak berasal dari bji tanaman jarak (Ricinus communis). Minyak jarak mengandung asam risinoleat yang jarang dimiliki tanaman lain. Kandungan tersebut yang membuat minyak jarak memiliki banyak manfaat untuk pengobatan, seperti sembelit, infeksi atau gangguan kulit, sakit dan radang, dan merangsang sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, minyak jarak juga dapat dimanfaatkan untuk aplikasi non medis meliputi:

Sebagai penghambat jamur, aditif makanan, dan zat penyedap rasa.
Sebagai tambahan bahan untuk produk perawatan kulit dan kosmetik seperti sampo, sabun, dan lipstik.
Digunakan dalam pembuatan barang seperti plastik, serat, atau cat.
Minyak jarak memiliki bau yang kuat dan terkenal dengan rasanya yang kurang sedap. Efek samping dari minyak jarak ini bisa mengganggu dan bahkan berbahaya, mulai dari mual hingga dehidrasi berat.

Ampuhkah minyak jarak untuk induksi persalinan?

Minyak jarak dapat merangsang gerakan peristaltik pada usus yang bisa mengiritasi rahim, sehingga memicu kontraksi. Selain itu, castor oil juga dapat mengurangi penyerapan cairan di usus halus. Hal ini dapat menyebabkan diare, muntah, dan kemungkinan untuk kontraksi.

Minyak jarak atau castor oil mungkin juga mendorong pelepasan reseptor prostaglandin, yang menyebabkan pelebaran leher rahim. Inilah yang membuat castor oil bermanfaat untuk induksi persalinan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Alternative Therapies of Health and Medicine melaporkan bahwa lebih dari setengah responden penelitian ini yang diberi castor oil mengalami persalinan menjelang 24 jam, dibandingkan dengan hanya empat persen yang memulai persalinan dalam rentang waktu yang sama tanpa dorongan apapun.

Penelitian lain yang lebih besar, yang diterbitkan hampir 10 tahun kemudian melaporkan bahwa castor oil tidak terlalu membantu dalam mendorong persalinan.

Castor oil bisa digunakan untuk induksi persalinan, tapi tidak begitu efektif. Bila efektif, Castor Oil dapat menyebabkan kontraksi yang tidak teratur dan menyakitkan, yang bisa membuat ibu dan bayi menjadi stres. Hal ini bisa mengakibatkan kelelahan dan dehidrasi (akibat muntah-muntah terus). Selain itu juga menyebabkan bayi Anda mengalami mekonium atau feses bayi pertama yang bercampur dengan air ketuban, sebelum melahirkan. Hal ini bisa menimbulkan gangguan kesehatan setelah lahir.

Jika Anda ingin mencoba castor oil untuk induksi persalinan Anda, Anda wajib mendiskusikannya terlebih dulu dengan dokter Anda. Dokter akan menyarankan hal ini sesuai dengan kondisi kesehatan atau kehamilan Anda serta faktor risiko yang terkait dengan kehamilan Anda.

Kapan perlu melakukan induksi persalinan?

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, induksi persalinan adalah keputusan medis yang dibuat untuk keselamatan Anda dan bayi Anda. Induksi persalinan tidak selalu dibutuhkan. Ada berbagai kondisi yang mengharuskan Anda melakukan induksi persalinan.

Beberapa kondisi yang membuat induksi persalinan harus dilakukan antara lain:

Usia kehamilan Anda melebihi tanggal yang seharusnya sudah hampir 2 minggu dan Anda tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Usia kehamilan yang lebih dari 42 minggu akan menempatkan Anda pada risiko yang lebih besar terhadap berbagai masalah, misalnya bayi lahir mati.
Kantung ketuban sudah pecah tetapi Anda tidak mengalami kontraksi. Induksi diperlukan untuk mengurangi risiko infeksi pada rahim atau bayi Anda. Namun, dokter juga melihat usia kehamilan dan bayi Anda apakah sudah siap dilahirkan atau belum. Jika bayi sangat prematur, dokter mungkin tidak akan melakukan induksi persalinan.
Anda mengalami infeksi pada rahim atau chorioamnionitis.
Bayi dalam kandungan sudah berhenti tumbuh.
Cairan ketuban sedikit atau tidak cukup mengelilingi bayi (oligohidramnion).
Anda mengalami abrupsio plasenta.
Anda mempunyai kondisi medis yang berisiko bagi Anda dan bayi seperti hipertensi, preeklampsia, atau diabetes gestasional.